Page 54 - Supernova 4, Partikel
P. 54

level 6 SD sampai pelajaran kelas 3 SMA.

          Aku mengerjakannya sambil setengah tidak percaya. Untuk inikah anak-anak itu disekap
        berjam-jam  di  kelas?  Lebih  baik  mereka  semua  ikut  Ayah  ke  Kebun  Raya  dan
        mendengarkan cerita-ceritanya tentang alam semesta. Nilaiku sempurna. Dengan setengah
        tidak percaya pula, mereka akhirnya mengizinkanku bersekolah di sana.

          Sempat terjadi proses negosiasi antara Ibu dan pihak sekolah. Ibu ingin aku langsung

        masuk kelas 3 SMA, sesuai dengan hasil tesku. Sekolah menolak dengan alasan faktor
        psikologis.  Mereka  khawatir  pengalaman  sosialku  yang  nol  besar  dalam  lingkungan
        sekolah  akan  menyulitkan.  Akhirnya,  Ibu  dan  pihak  sekolah  sepakat  untuk
        menempatkanku di kelas 1 SMA.

          Dimulailah sebuah babak baru. Aku, anak setengah dewa, dicemplungkan ke lautan anak
        manusia. Setiap detik berjalan, aku mulai meragukan keputusanku masuk ke situ.

          Satu-satunya tujuanku bersekolah adalah mendapat ilmu untuk memahami jurnal Ayah.
        Menemukan guru-guru pengganti yang bisa membimbingku naik tingkat. Tak kutemukan

        semua itu.

          Aku membenci setiap detiknya. Kecuali olahraga dan jajan. Aku benci seragam sekolah.
        Aku benci pelajaran. Aku benci PR. Aku benci upacara. Aku benci diam di kelas. Guru-
        guruku bikin ngantuk. Aku tidak punya teman. Mereka semua aneh. Selalu bertanya yang
        aneh-aneh.

          “Agama kamu apa, sih, Zarah? Natalan atau Lebaran? Kok nggak pernah shalat, tapi
        juga nggak ikut kelas agama tambahan buat yang non-Muslim?”

          “Kamu itu Hindu? Buddha? Atau aliran kepercayaan?”


          Aku menggeleng. “Saya ikut ayahku, dia itu—” aku mengeja hati-hati, “ateis.”

          Teman-temanku terpekik, “Kamu PKI?” Lalu, mereka tunggang langgang melapor ke
        guru. Dan, aku terbengong-bengong karena tak tahu PKI itu apa.

          Besoknya,  Ibu  dipanggil  menghadap  Pak  Yusuf.  Berbusa-busa,  Ibu  pun  menjelaskan
        bahwa itu hanya celetukan asal-asalan. Aku cuma pernah mendengar istilah “ateis”, lalu
        iseng  dicomot  tanpa  tahu  artinya  apa.  Ibu  lantas  menyebut-nyebut  Abah  sebagai  tokoh
        agama terkemuka di Bogor, jadi mana mungkin punya cucu ateis?

          “Sekarang kamu sudah ngerti apa itu ateis, Zarah?” tanya Pak Yusuf.

          Aku mengangguk saja.


          “Ateis  itu  tidak  percaya  Tuhan.  Sementara  itu,  negara  kita  ini  negara  ber-Tuhan.  Sila
        pertama dasar negara kita saja Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi, jangan pernah membahas
        ateisme lagi di lingkungan sekolah. Ngerti?”

          Aku mengangguk lagi.

          Pak  Yusuf  lalu  menyarankan  Ibu  lebih  berhati-hati  memilihkan  bacaan  untukku.
        “Jauhkan buku-buku yang berbahaya, Bu Aisyah. Banyak buku berideologi sesat beredar
        di pasaran,” katanya. “Pikiran anak muda itu labil, Bu. Jangan sampai Zarah membawa
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59