Page 57 - Supernova 4, Partikel
P. 57

Pak Yusuf mengangguk-angguk. “Iya, Bu. Yang saya pantau dari laporan guru-guru pun
        Zarah  ini  memang  aneh,  Bu.  Di  satu  sisi,  ada  pelajaran-pelajaran  yang  dia  kuasai  jauh
        melampaui  teman-temannya,  tapi  ada  pelajaran-pelajaran  lain  yang  dia  betul-betul  nol.
        Naif sekali. Dan, sering tidak pada tempatnya.”

          Ibu  lalu  berjanji  akan  mengursuskanku  mengaji  dan  mendaftarkanku  ke  pesantren
        intensif saat libur nanti.


          Mendengar itu semua, aku tak bisa tinggal diam.

          “Pak, saya hanya bercerita. Saya nggak punya niat menghina siapa-siapa,” aku membela
        diri  di  depan  Pak  Yusuf.  “Kenapa  Bu  Aminah  harus  tersinggung  dengan  cerita  saya?
        Kalau beliau nggak percaya dengan cerita saya, kan, saya juga nggak marah.”

          “Tapi,  kamu  sudah  menyinggung  masalah  SARA,”  sahut  Pak  Yusuf.  “Itu  masalah
        besar.”

          “SARA itu apa?” tanyaku.

          “Suku, agama, ras, dan antargolongan.”

          Aku termenung sejenak. Tetap tak memahami mengapa keempat hal itu menjadi masalah

        besar yang mengharuskan seseorang kena skors.
          “Ya, tapi kenapa Bu Aminah harus marah? Di mana letak penghinaannya, Pak?” tanyaku

        sekali lagi.

          “Karena apa yang kamu ceritakan tidak sesuai dengan pelajaran Agama. Tidak sesuai
        dengan Islam.”

          “Cerita saya itu memang belum tentu benar, Pak. Namanya juga cerita. Yang diceritakan
        Bu Aminah tentang Adam dan Hawa, kan, belum tentu benar juga—”

          “A–apa? Belum tentu benar katamu?” Pak Yusuf melotot.

          Aku diskors satu minggu. Plus, sehelai surat rujukan untuk masuk pesantren saat libur

        kenaikan kelas.




        Malamnya, sebuah pengadilan digelar. Aku sebagai terdakwa.

          Muka Abah merah padam. Ia benar-benar marah. “Hari ini kamu benar-benar mencoreng
        muka Abah. Malu Abah punya cucu kafir!” tukasnya.

          “Kafir itu apa, Bah?” tanyaku.

          “Tidak beriman pada Islam! Pada Al-Quran! Kepada Nabi Muhammad!” bentak Abah
        sambil menunjuk ke langit-langit.

          “Iman itu apa?”


          Abah geleng-geleng kepala. Menatap Ibu dengan putus asa. “Keterlaluan. Benar-benar
        keterlaluan,” ucapnya.

          “Iman itu artinya percaya dengan sepenuh hati, Zarah,” Ibu berkata pelan.
   52   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62