Page 58 - Supernova 4, Partikel
P. 58

“Zarah nggak pernah bilang Zarah beriman pada tulisan Ayah, Zarah cuma cerita. Apa
        salahnya? Kenapa nggak boleh?”

          “Karena  kebenaran  cuma  ada  satu,”  potong  Abah,  “kebenaran  Allah  subhanahu  wa
        taala.”

          “Kalau  kebenaran  cuma  satu,  kenapa  ada  banyak  agama?  Abah  sendiri  bilang,  Islam
        banyak  alirannya.  Berarti  nggak  cuma  satu,  dong,”  balasku.  “Kalau  yang  benar  cuma

        Islamnya Abah, berarti teman-temanku yang dari agama lain, dari Islam aliran lain, juga
        harusnya  diskors.  Kenapa  cuma  Zarah?  Padahal,  Zarah  nggak  percaya  apa-apa.  Zarah
        cuma menceritakan apa yang Zarah baca.”

          “Di situ salahmu, Zarah,” Umi menyambar. “Kamu sedang berada di dalam kelas yang
        lagi belajar Agama Islam. Kamu tidak boleh menceritakan sesuatu yang lain dengan yang
        diajarkan. Itu menghina namanya.”

          “Berarti kalau di pelajaran lain boleh?”

          “Masya  Allah,”  Abah  mengusap  mukanya.  “Dengar,  Zarah.  Kita  ini  keluarga  Islam.

        Sampai mati, kita semua tetap Islam. Mulai hari ini, cuma boleh ada satu kebenaran di
        rumah  ini.  Cuma  ada  satu  kebenaran  yang  kamu  bawa  ke  sekolah.  Dan,  ke  mana  pun
        kamu pergi nanti, kebenaran itu tidak berubah. Jangan berani-berani kamu pertanyakan.
        Mengerti?”

          Aku menggeleng.

          Serta-merta, Abah bangkit berdiri. Tangannya melayang. Ibu menjerit, “Jangan, Abah!”

          Abah memukul tembok di atas kepalaku. Ia lalu ambruk di kursinya, menangis tersedu-
        sedu. “Abah gagal… Abah gagal,” ratapnya.

          Di tempat dudukku, aku cuma bisa diam dan membisu. Untuk kali pertama aku melihat

        Abah menangis. Tersedu-sedu serupa anak kecil di hadapanku.

          “Di mana tulisan Ayah yang kamu baca itu?” Ibu bertanya, garang.

          “Sudah disita polisi,” gumamku.

          “Sana, ke kamar. Besok kamu harus bangun pagi. Ibu antar kamu ke pesantren.”

          Semalaman  aku  tak  bisa  tidur.  Berusaha  merunut  apa  yang  terjadi  dan  memahami.
        Mengapa mereka marah? Mengapa mereka harus merasa terancam? Apa yang sebegitu
        salahnya dengan tulisan Ayah? Kenapa berbeda menjadi begitu menakutkan? Aku berpikir
        dan berpikir. Dan, tetap aku gagal memahami.

          Kali ini aku berempati kepada Ayah. Kesulitannya, rasa putus asanya pada lingkungan
        sekitarnya, dan betapa lelahnya terisolasi sendiri tanpa ada yang memahami. Bertahun-

        tahun, Ayah harus berhadapan dengan benteng-benteng batu. Mereka yang tidak bisa dan
        tidak mau melihat perbedaan. Persis yang kuhadapi malam itu.

          Maka, kuputuskan untuk diam. Untuk apa menabrak-nabrakkan diri ke benteng batu?
        Hanya akan mengundang masalah, dan aku tak punya cukup ruang untuk itu. Tujuanku
        jelas dan pasti: mencari Ayah. Yang lain hanya keberisikan. Tak perlu kudengar.
   53   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63