Page 59 - Supernova 4, Partikel
P. 59

Dengan tekad itu, aku menjalani masa pesantrenku selama sebulan penuh tanpa protes
        sedikit pun.

          Pesantren  yang  dirujuk  oleh  sekolahku  ternyata  bukan  pesantren  biasa.  Tempat  itu
        dikenal sebagai tempat rehabilitasi. Teman-temanku adalah pecandu narkotika yang masuk
        ke  sana  demi  menyembuhkan  diri.  Aku  satu-satunya  yang  bukan  pecandu.  Tapi,  aku
        memiliki catatan khusus. Rehabilitasi iman.


          Para pembimbingku mengundangku hampir setiap malam untuk berdiskusi. Aku iyakan
        semua yang mereka bilang. Aku sepakati semua cerita mereka dari mulai penciptaan alam
        semesta sampai hari kiamat. Tidak ada argumentasi.

          Zarah pulang sebagai manusia baru, demikian yang mereka katakan kepada Ibu saat
        menjemputku. Ibu mencium tangan mereka satu-satu sebagai tanda terima kasih.

          Setidaknya mereka benar tentang satu hal. Aku pulang dengan sebuah kesadaran baru.
        Aku adalah Firas berikutnya. Inilah pemberontakan pertamaku.

                                                                                                             12.

        Memasuki semester dua, sebuah kejutan menantiku. Setelah setengah tahun duduk sendiri

        tanpa teman sebangku, pagi itu seorang anak tidak kukenal mengisi kursi di sebelahku.
        Tahu-tahu aku punya teman sebangku.

          Dia murid baru. Anak perempuan Afrika yang baru pindah dari Nigeria karena ayahnya
        sedang  berbisnis  tekstil  di  sini.  Aku  menduga  kuat  itulah  pengalaman  pertama  satu
        sekolahku melihat manusia ras negroid. Kehadirannya selalu membuat kami terkesiap.

          Kulitnya yang hitam menonjolkan dua fitur dari wajahnya: mata dan gigi. Sepertinya
        hanya dua itu yang bisa kami tangkap jika melihatnya dari jauh. Rambutnya keriting besar

        seolah  ada  belukar  ditempel  di  kepalanya.  Tubuhnya  bongsor  sebesar  anak  kuliahan.
        Tinggi dan berotot lencir seperti atlet-atlet Olimpiade di televisi.

          Namanya Kosoluchukwu Onyemelukwe. Anak-anak laki-laki di kelasku memanggilnya
        “Keselek”. Kurasa itu lebih karena mereka tak pandai berfonetika ketimbang mengejek,
        dan  bagi  yang  lidahnya  kurang  terampil,  mengucap  nama  Kosoluchukwu  memang  bisa
        membuat keselak.

          Fisiknya, namanya, dan kegagapan kami menanggapi perbedaan, sudah lebih dari cukup
        untuk membuat Kosoluchukwu jadi bulan-bulanan satu sekolah. Hal itu diperparah lagi

        dengan  faktor  bahasa.  Kosoluchukwu  sama  sekali  tidak  bisa  bahasa  Indonesia.  Anak
        malang. Aku tak habis pikir, kenapa Pak Yusuf mau saja menerima tanpa berpikir panjang
        apa akibatnya bagi Kosoluchukwu? Atau mungkin diam-diam Pak Yusuf memang hobi
        koleksi  siswa-siswa  aneh.  Seperti  aku.  Belakangan  kudengar,  ayah  Kosoluchukwu
        membayar mahal demi anak perempuannya diterima di sekolah kami.

          Aku  sangat  senang  Kosoluchukwu  dipilih  menjadi  teman  sebangkuku.  Walau  jelas
        terbaca bahwa memasangkan dia denganku adalah tanda kami sama-sama anak terbuang.

        Sewajarnyalah mereka yang terbuang lantas beraliansi. Aku dan Kosoluchukwu langsung
        berteman baik. Hal yang pertama kulakukan setelah kami berkenalan adalah meminta izin
        untuk memanggilnya Koso.
   54   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64