Page 104 - 01_Kelas_02_SD_Agama_Islam_dan_Budi_Pekerti_Guru_148.pdf
P. 104

D. Disiplin Nabi Lū¯ a.s.


                   1. Kompetensi Inti (KI)
                      KI-2  Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,
                           dan  percaya  diri  dalam  berinteraksi  dengan  keluarga,  teman,  dan
                           guru.
                      KI-3  Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar,
                           melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang
                           dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, serta benda-benda
                           yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
                      KI-4  Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis,
                           dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
                           sehat,  serta  dalam  tindakan  yang  mencerminkan  perilaku  anak
                           beriman dan berakhlak mulia

                   2. Kompetensi Dasar (KD)
                      2.7  Memiliki  perilaku  disiplin  sebagai  implementasi  dari  pemahaman
                           Q.S. al-‘A¡r
                      3.13  Mengetahui kisah keteladanan Nabi Lū¯ a.s.
                      4.13  Menceritakan kisah keteladanan Nabi Lū¯ a.s

                   3. Tujuan Pembelajaran
                      Peserta didik mampu melakukan hal-hal berikut ini.
                      a.  Berperilaku disiplin dalam kehidupan sehari-hari.
                      b.  Menyebutkan kisah singkat keteladanan Nabi Lū¯ a.s. dengan benar.
                      c.  Menyebutkan perilaku disiplin Nabi Lū¯ a.s. dengan benar.
                      d.  Menunjukkan perilaku disiplin dengan benar.

                   4. Pengembangan Materi

                               Nabi Lū¯ a.s. Berdakwah dengan Tekun dan Sabar
                      Allah  Swt.  menciptakan  manusia  terdiri  atas  lelaki  dan  perempuan.
                      Setelah dewasa, lelaki akan menikah dengan perempuan agar mempunyai
                      keturunan. Karenanya, manusia dilarang melajang (tidak mau menikah).
                      Nah, kaum Nabi Lū¯ ini punya kebiasaan jelek, atau maksiat, yaitu para
                      lelakinya tidak mau menikah dengan wanita, tetapi justru mereka menyukai
                      sesama lelaki. Tentu saja kebiasaan ini dikritik Nabi Lū¯ karena dilarang
                      oleh Allah Swt. Maksiat lainnya, mereka melakukan kejahatan, merampok,
                      membunuh dan menganiaya.
                      Nabi Lū¯ a.s. lalu mengajak kaumnya agar beriman dan beribadah kepada
                      Allah  serta  meninggalkan  maksiat.  Akan  tetapi  kaum  Nabi  Lū¯  justru
                      tidak  suka  mendengar  dakwah  dan  nasihat-nasihatnya.  Mereka  berkata:




                92   Buku Guru Kelas II SD/MI
   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109