Page 107 - 01_Kelas_02_SD_Agama_Islam_dan_Budi_Pekerti_Guru_148.pdf
P. 107
7. Pengayaan
Menceritakan kisah keteladanan Nabi Lū¯ a.s. harus disesuaikan dengan
perkembangan psikologis siswa kelas dua sekolah dasar. Karenanya tidak
semua fakta dalam kisah yang ada dalam al-Qur’ān diberikan. Dalam
kerangka itu, kisah terkait kebiasaan kaum Lū¯ yang homoseksual tidak
bisa ditekankan, bahkan harus dihindari.
Sebagai titik tekan cerita, dakwah Nabi Lū¯ a.s. memberantas maksiat
(dalam arti kepada mereka yang menolak beriman dan tetap membiasakan
kelakuan jelek) akhirnya mendatangkan azab Allah.
Peserta didik kelas dua sudah sering melihat pesta pernikahan saudara
atau teman orangtua mereka. Fenomena itu dapat dijelaskan sekilas
kalau dikehendaki, karena dalam benak mereka sudah terekam peristiwa
semacam itu.
8. Remedial
Bagi peserta didik yang belum mencapai KKM, guru menjelaskan kembali
materi kisah keteladanan Nabi Lū¯ a.s. Selanjutnya melakukan penilaian
kembali (lihat poin 6) dalam menjawab pertanyaan. Pelaksanaan remedial
dilakukan pada hari dan waktu tertentu yang disesuaikan, misalnya 30
menit setelah jam pulang.
9. Interaksi Guru dan Orang ua
Guru meminta peserta didik memperlihatkan rubrik “Insya Allah Aku
Bisa” dalam buku teks kepada orang tuanya dengan memberikan komentar
dan paraf (halaman terakhir Pelajaran 8). Dapat juga dilakukan dengan
menggunakan buku penghubung guru dan orang tua atau komunikasi
langsung dengan orang tua untuk mengamati perilaku disiplin anak dalam
keluarganya. Misalnya orang tua diminta mengamati perilaku disiplin
dalam belajar dan beribadah serta kegiatan di rumahnya.
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 95

