Page 103 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 103

Keping 51


           Gio. “Dimas benar. Gio, kamu adalah kado hari jadi kami yang
           terlambat beberapa bulan.”
             “Eh—hari jadi?”

             “Aku dan Dimas. Nggak kelihatan, ya?”
             “Oh. Itu. Eh—ya—kelihatan, kok. Jelas banget kalian
           bukan kakak-adik,” jawab Gio terbata.
             Sudah dari tadi Dimas jatuh iba kepada Gio yang harus
           menghadapi Reuben dalam kondisi  “kesurupan”. Interaksi

           kedua orang itu tampak sangat menggelikan. “Reuben, kalau
           ada orang yang bisa membongkar identitas Supernova, pasti
           sudah ada yang melakukannya dari dulu-dulu. Kalau sejauh ini
           nggak ada yang tahu Supernova itu siapa, berarti kemungkinan
           nggak ada yang bisa,” sahut Dimas.
             “Mungkin yang bisa belum tentu mau,” balas Reuben.
             “Atau, yang mau belum tentu bisa. Kayak kita,” kata Dimas.

           “Sudahlah. Ilmu komputer kita nggak bakal sampai buat
           bongkar yang begitu-begituan.”
             “Kita memang nggak cukup canggih, Dimas.  Tapi, kita
           sama-sama tahu siapa yang paling potensial untuk itu.”
             “Siapa?
             Reuben  menghela  napas.  “Semut di  ujung  pulau dicari-

           cari, gajah bengkak di depan mata malah dibiarkan nganggur.”
             Dengan cepat air muka Dimas berubah. “Aku yakin dia
           adalah orang yang bisa dan nggak bakal mau.”
             “Kita belum pernah coba, kan? Kalau perlu kita sewa dia
           secara profesional. Pasti mau.”



           88
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108