Page 100 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 100

IntelIgensI embun PagI

              Reuben mengangkat alisnya. “Tahu atau pernah?”
              “Ayahuasca. Beberapa hari lalu di Peru.”
              Reuben menepak kaki Dimas.  “Apa kubilang? Makanya

           kita harus ke Amerika Selatan!” Perhatiannya dengan cepat
           berpindah lagi kepada Gio. “Ayahuasca. Bagaimana rasanya?
           Berapa kali kamu coba? Ada syaman yang memandu?”
              “Di Peru kami sering dengar ungkapan, manusia punya tiga
           tahap penting sepanjang hidupnya: lahir, minum Ayahuasca,
           dan mati. So, dua tahap sudah saya penuhi,” jelas Gio sambil
           tertawa kecil. “Susah dijelaskan. Pengalaman itu nggak ada
           duanya. Ayahuasca bukan cuma membuka mata, melainkan
           juga menyembuhkan.” Gio merangkum ringkas. Kalaupun

           dipaksa, ia sungguhan tak tahu bagaimana harus menjelaskan
           sisa detail pengalaman Ayahuasca-nya yang melibatkan
           Luca dan informasi tentang para Peretas. Bagian yang tidak
           mungkin ia bagi dengan orang-orang yang baru saja ia kenal.
              Dimas menunjuk ke arah rak buku. “Ada area khusus di
           perpustakaan kami yang isinya puluhan buku Reuben tentang
           psychedelics. Jadi, maklum saja kalau kelakuannya kayak orang
           terobsesi.”
              “Gio, kamu lihat apa saja? Katanya banyak orang
           melihat ular besar, bahkan ada yang lihat makhluk-makhluk
           ekstraterestrial. Benar begitu?” desak Reuben.
              “Setahu saya, pengalaman Ayahuasca sangat individual.

           Kita akan melihat apa yang kita butuhkan.”
              Reuben tidak puas dengan jawaban Gio.  “Yang saya
           baca, biarpun detail individualnya bisa beda-beda, setiap


                                                                  85
   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105