Page 98 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 98

IntelIgensI embun PagI

              Ucapan Amaru terbukti. Diva bukan misinya lagi.
           Kedatangannya ke rumah Reuben dan Dimas hanyalah

           lembaran final yang ia butuhkan. Betapa menyedihkan, batin
           Gio, mengingat kedua pria itu bahkan tak pernah mengenal
           Diva.
              “Saya nggak tahu apa-apa soal Supernova dan hubungannya
           dengan Diva. Kalian satu-satunya pihak yang dia sebut di daftar

           kontak daruratnya, makanya saya kemari.” Gio membuka
           tasnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik bersegel.
           “Ini sisa barang-barangnya. Hanya beberapa baju. Ransel dan
           peralatannya ada di rumah. Saya tadi nggak bawa karena….”
           Gio menelan ludah. “Saya ingin menyimpan ranselnya, kalau
           kalian nggak keberatan.”
              “Gio. Kami bukan keluarganya. Kami bukan siapa-siapanya
           Diva. Kami sama sekali nggak berhak,” kata Reuben.

              “Diva nggak punya keluarga. Dia yatim piatu. Saya juga
           nggak kenal teman-temannya. Selain kalian, saya nggak tahu
           lagi harus menghubungi siapa.”
              “Kamu saja yang simpan, Gio,” ucap Dimas.
              “Oke. Saya bisa donasikan atau…,” Gio memaksakan

           dirinya tersenyum,  “terima kasih untuk waktunya. Dan,
           kopinya.” Gio meraih mok di hadapannya, lalu menyesap kopi
           suguhan Reuben demi sopan santun.
              “Ada satu hal tentang Supernova yang menjadi misteri buat
           kami, dan ini bukan soal identitas orang di baliknya,” cetus
           Reuben.



                                                                  83
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103