Page 104 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 104
IntelIgensI embun PagI
Dimas bangkit berdiri dari sofa dan menyambar pesawat
telepon. “Aku nggak janji, ya. Orang ini paling susah disuruh-
suruh. Apalagi, sama keluarganya sendiri. Moga-moga kita
beruntung.”
Toni menyipitkan matanya saat sederet nomor Jakarta yang
tak terdaftar di kontaknya muncul di layar ponsel.
“Halo,” sapanya ragu, bersiap memutus telepon atau pura-
pura gila kalau ternyata yang menelepon adalah bank atau
polisi.
“Toni?”
Suara dan nada bicara itu familier. Terdengar seperti teman
lama atau famili. Toni mengeluh dalam hati, bisa jadi ini lebih
mengerikan daripada dua kemungkinan pertama tadi.
“Ini Dimas.” Suara itu menyambung lagi.
Toni mengerutkan kening, berusaha menghubungkan suara
itu dengan daftar “Dimas” yang ia kenal. “Paklik?” tanyanya
hati-hati.
Di ujung sana, Dimas memanyunkan bibir. Beda usianya
yang jauh dengan kakak-kakaknya, terutama dengan ibu
Toni, menjadikannya seorang paman dengan keponakan-
keponakan besar yang lebih cocok jadi teman main. Berulang-
ulang ia mengimbau di setiap acara keluarga agar keponakan-
keponakan besarnya berhenti memanggil “Paklik” dan Dimas
89

