Page 105 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 105

Keping 51


           malah kena damprat para tetua. Dimas terpaksa kongkalikong
           dengan keponakan-keponakannya. Mereka hanya boleh

           memanggil “Paklik” di acara keluarga. Untuk interaksi di luar
           itu, para keponakannya hanya boleh memanggil nama atau
           paling tidak “Mas”.
             “Ya,” sahut Dimas ketus.
             Toni nyengir mendengar nada sebal lawan bicaranya. “Cuma

           mau konfirmasi, Mas. Aku, kan, nggak simpan nomor telepon
           rumahmu. Tumben amat telepon. Kangen, ya?” Dari jajaran
           paman dan bibinya yang seabrek, Dimas adalah favoritnya.
           Paling muda dan pemberontak, Dimas mengambil pilihan
           tak populer dengan tak kunjung menikah dan malah muncul
           dengan teman pria yang itu-itu lagi. Sementara beberapa
           tetua keluarganya memilih menyangkal pilihan Dimas dan
           masih menanyakan pertanyaan “kapan kawin?” setiap tahun,

           hampir semua anggota keluarga besar tahu sama tahu perihal
           Dimas dan Reuben. Toni menyukai Reuben yang menurutnya
           nyentrik dan jauh dari membosankan, yang diam-diam ia dan
           sepupu-sepupunya juluki “Bulik Brewok”.
             “Kangen pengin jitak.  Ton, aku mau sewa jasa kamu.

           Jangan anggap ini paman minta tolong sama keponakan. Ini
           permintaan profesional.”
             Toni mencium sesuatu yang tidak biasa di balik permintaan
           Dimas. “Mas nggak bakal sanggup bayar aku. Sudahlah. Apa
           yang bisa kutolong?”
             “Aku serius, Ton.”



           90
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110