Page 109 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 109

KEPING 52




                                Warisan












                    enting oranye yang  berlumut. Jendela dan daun
                    pintu bercat oker. Teras berhiaskan sepasang kursi
          Grotan dan meja bundar berlapis taplak batik. Rumah

           itu sama sebagaimana yang terpatri dalam ingatannya. Zarah
           masih bisa mendengar tawa adiknya, Hara, dan tawanya sendiri,
           saat mereka berdua berlarian di pekarangan rumah Abah yang
           rindang oleh pohon buah. Kenangan yang sedemikian silam
           hingga Zarah merasa sedang mengunjungi alam mimpi.
             Jalan masuk menuju teras ditutupi serakan batu kali yang

           berbunyi keras jika diinjak. Abah sengaja menebarkannya agar
           penghuni rumah tahu jika ada tamu yang mendekat. Cukup
           beberapa ayunan saja langkah Zarah di setapak batu, pintu itu
           terbuka.
             “Kakak!”
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114