Page 110 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 110

IntelIgensI embun PagI

              Hara menggabruk Zarah seperti tupai memeluk ranting
           pohon.

              “Hara,” bisik Zarah seraya mendekap erat adiknya. Tinggi
           Hara sudah hampir segaris alisnya, semampai dengan tungkai-
           tungkai yang panjang. Rambut Hara tergerai rapi dengan kulit
           bercahaya. Zarah merasa seperti lap pel bersandingan dengan
           selendang sutra.

              “Kakak kelihatan segar sekali,” Hara merenggangkan
           pelukannya, mempelajari Zarah.
              Perbedaan  waktu  dan  perjalanan  panjang  dari  London
           tetap membuat Zarah lelah, tapi sesi Iboga di Glastonbury
           telah mengangkat beban batinnya sedemikian drastis
           hingga rasanya ia menggunakan tubuh dan hati yang baru.
           Langkahnya pulang kali ini terasa ringan.  Tempat-tempat
           yang biasanya begitu memberatkan, termasuk rumah Abah,

           kini bisa ia pandang dengan hati lapang. Zarah menduga,
           barangkali itu yang sebenarnya dilihat Hara.
              “Ibu dan Umi ada di dalam?” tanya Zarah.
              “Ada. Bapak juga di dalam.”
              Butuh sepersekian detik untuk Zarah memahami “Bapak”

           yang dimaksud Hara. Kendati sopir dan mobil Pak Ridwan-
           lah yang tadi menjemputnya ke bandara dan mengantarnya
           ke rumah Abah. Zarah hanya mengenal pria itu sejauh “Pak
           Ridwan”. Belum sempat mengenalnya sebagai  “Bapak”.
           Mungkin sudah saatnya.





                                                                  95
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115