Page 111 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 111

Keping 52


             Zarah melepas sepatu botnya. Dari celah pintu yang

           setengah terbuka, terlihatlah ruang tamu yang tertutup tikar
           sambung-menyambung. Hal berikut yang tertangkap matanya
           adalah foto Abah yang terbingkai bunga-bunga putih.
             “Assalamualaikum.” Zarah melangkah masuk.

             Salamnya dibalas serempak dari dalam, disambung pecahnya
           isakan Umi. Zarah sudah meramalkan kedatangannya akan
           menguak luka, membangkitkan beragam emosi. Ia hanya tak
           tahu emosi mana yang akan duluan menyeruak. Tak mungkin
           melangkah mundur. Ia membutuhkan momen ini sebagaimana
           Umi butuh menghukumnya.

             Zarah  terus  beringsut  maju.  Ekor  matanya  menangkap
           kaki Ibu, kaki Pak Ridwan. Mulai terdengar ibunya menangis
           sayup. Isak lirih itu membuat dadanya ikut terimpit. Zarah
           tiba di hadapan Umi dengan mata berkaca-kaca.

             “Umi,” sapa Zarah seraya meraih punggung tangan
           neneknya untuk ia tempelkan di kening. Sekejap saja keningnya
           dan tangan Umi bertemu. Zarah langsung ditarik dan didekap
           erat.
             “Abah kangen kamu, Zarah,” tangis Umi. Bercampur sedu

           sedan, mengalirlah cerita tentang Abah yang membongkar
           foto-foto lama pada malam terakhir sebelum ia meninggal.
           Dari setumpuk foto yang ia bongkar, Abah mengambil dua
           lembar foto, mengamatinya lama tanpa bersuara. Semua terbaca

           di matanya. Umi mengenali baik sorot itu. Ketika suaminya



           96
   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116