Page 112 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 112

IntelIgensI embun PagI

           tak sibuk mengurusi warga, tak sibuk ceramah, dan tak sibuk
           menjadi Abah Hamid yang sebagian besar hidupnya dipakai

           untuk melayani orang lain, sorot mata itulah yang kerap hadir.
           Pada momen semacam itu, Abah hanya diam, menatap lama
           ke satu titik, tapi Umi tahu apa yang Abah pikirkan. Anak
           sulungnya dan cucu kesayangannya. Dua orang yang Abah
           banggakan dan hilang dari hidupnya.

              “Maafkan abahmu,” bisik Umi di kupingnya. Air mata Umi
           bergesekan dengan mukanya. Zarah tak lagi yakin air mata
           Umi atau air matanyakah yang membasahi pipi.
              Setengah mati Zarah berusaha bicara balik. Kata-kata
           tersangkut di tenggorokannya yang kepayahan menahan isak.
           Ia ingin berkata, ia sudah bertemu Abah. Urusan mereka
           akhirnya tuntas. Tak ada lagi kesalahan yang butuh pemaafan.
              Menit demi menit berlalu, Zarah tidak kunjung berkata-

           kata. Ia hanya duduk bersimpuh, menatap foto Abah. Air mata
           bergulir satu demi satu tanpa suara.
              Umi kini menyadari betapa besar persamaan Abah dengan
           Zarah. Segalanya terbaca jelas. Cucunya yang hilang kembali
           pulang untuk meluruhkan tangis yang lama membatu. Inilah

           kesempatan Zarah untuk melepas kebekuan yang telah lama
           membelenggu keluarga mereka. Zarah dan Abah kini sama-
           sama terbebas.









                                                                  97
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117