Page 113 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 113

Keping 52


           Alfa memandangi bukit landai bermandikan matahari yang
           diukir menjadi petak-petak sawah dan menyadari betapa ia
           merindukan pemandangan ini. Sebagian dirinya masih tak

           percaya ia sudah kembali ke Indonesia. Pemandangan alam
           tropis sepanjang perjalanan menuju Bandung lambat laun
           menerbitkan rasa sentimental. Alfa mulai tergoda untuk
           menelepon ke rumah. Diliriknya Kell yang juga sedang
           menekuni pemandangan dari sisi jendela sebelahnya.
             “Bandung memang kecil dibandingkan Jakarta, tapi kota
           itu merupakan salah satu metropolitan terbesar di negara ini.
           Sudah tahu mau ke mana?” tanya Alfa.
             Tidak terdengar jawaban dari Kell selain gumaman-

           gumaman pendek yang sepertinya tidak ditujukan untuk
           merespons pertanyaan Alfa.
             “Ada yang macet di jaringan Infiltran?” celetuk Alfa lagi.
             “Kamu tahu berapa banyak kemungkinan yang harus kami
           kalkulasi untuk setiap tindakan?”
             “Nggak lebih banyak daripada permainan catur, pastinya.
           Di langkah keempat kita sudah bicara ratusan miliar
           kemungkinan.”
             “Yet humans don’t play chess all the time.  We do. Manusia
           adalah makhluk yang digerakkan kebiasaan dan otomatisasi.
           A lazy luxury we can never afford,” balas Kell.
             “Apa yang sedang kamu hitung? Barangkali aku bisa bantu.”

             “Aku suka rasa percaya dirimu, Alfa. Tapi, yang satu ini
           di luar dari kemampuan kamu. Aku sendiri belum tentu bisa
           mengatasi.”


           98
   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118