Page 115 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 115

Keping 52


             Bodhi bisa merasakan jawaban yang ia cari sudah begitu
           dekat, nyaris dalam genggaman. Tempat yang ia cari untuk

           memperoleh kesejatian ternyata bukan tempat fisik yang
           bisa ia datangi dengan ransel dan buku Lonely Planet. Entah
           bagaimana, teman barunya, Elektra, justru memiliki kunci
           masuk ke sana. Bodhi benci karena ia harus bergantung kepada
           orang lain. Bodhi lebih benci lagi karena ia jadi mencelakai

           satu-satunya orang yang bisa membantunya.
             Ingatannya terlempar kepada Sati. Meski Sati tampak tidak
           tertarik dengan Asko dan lebih tertarik kepada kemampuannya,
           saat ini Sati adalah satu-satunya harapan yang tersisa.
             Pucuk bangunan Elektra Pop terlihat. Hati Bodhi menciut.
             “Berhenti di depan, Pak,” kata Bodhi kepada sopir yang
           duduk di sampingnya. Angkutan kota itu menepi. Bodhi
           turun dari pintu depan. Salah seorang staf Elektra Pop yang

           diingatnya bernama Kewoy berdiri tak jauh dari tempatnya
           turun.
             “Halo, Bang Bodhi!” sapa Kewoy. “Nggak bareng Etra?”
             Bodhi tak tahu apa yang menyebabkan Kewoy terpikir
           untuk memanggilnya “Bang”. “Etra masih di rumah Bu Sati,”

           jawab Bodhi. “Mpret ada, Woy?”
             “Bos Jabrik ke Jakarta.”
             “Kapan?”
             “Barusan.”
             “Ngapain? Kok, mendadak?” tanya Bodhi. Ia sangat
           mengharapkan kehadiran Toni untuk teman diskusi.



           100
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120