Page 116 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 116

IntelIgensI embun PagI

              “Si Bos memang sering gitu.”
              “Sampai kapan, katanya?”

              “Bos Kurus nggak bilang.”
              Di belakang punggungnya, Bodhi yakin Kewoy akan
           menamainya Bang Botak atau Bang Pucat.
              “Coba telepon ke HP-nya saja, Bang,” kata Kewoy lagi.
              Bodhi hanya mengangguk sekilas. Ia adalah segelintir dari

           manusia modern yang tidak punya ponsel. Bodhi tidak merasa
           butuh karena hampir selalu ia pergi ke mana-mana bersama
           Bong yang berfungsi sebagai sekretarisnya.
              Kewoy menjulurkan tangan, menyetop angkot.  “Saya
           duluan ya, Bang. Ada janji dulu.” Lincah, Kewoy lalu melompat
           ke dalam angkot dan menggantung di pintu.
              Di halaman depan salah satu tempat nongkrong paling
           trendi di Bandung, Bodhi lama mematung. Baginya, kota ini

           adalah rumah kedua selain belantara Jakarta tempat sepetak
           kamar indekosnya di Kebon Kacang berada. Baru kali inilah
           Bandung  membuatnya merasa terisolasi di pulau terpencil.
           Kesepian dan terasing.







           Matahari yang mulai turun ke arah Barat menembuskan
           sinarnya ke sela dedaunan kemboja. Zarah meletakkan
           beberapa tangkai kembang sedap malam yang ia petik dari
           kaki bukit. Nisan kayu itu baru berumur dua hari. Serakan



                                                                 101
   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121