Page 117 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 117

Keping 52


           kelopak bunga tabur di atas gundukan tanah masih terlihat
           segar.

             Makam Abah tak jauh letaknya dari rumah keluarganya
           di Batu Luhur, bisa didatangi dengan berjalan kaki. Zarah
           merapikan tumpukan karangan bunga yang melingkungi
           makam Abah sambil menimbang-nimbang untuk mampir ke
           rumah itu. Tak terbayang bagaimana kondisinya sekarang. Tak

           terbayang  apa  perasaannya nanti.  Rindu bercampur gentar
           mulai membayang.
             Terdengar bunyi kersuk rumput di balik punggungnya.
           Zarah menelengkan kepala. Ekor matanya menangkap
           seseorang yang berjalan mendekat.
             “Kupikir Ibu sudah duluan pulang ke Bogor,” kata Zarah.
             Aisyah menjajari anak sulungnya. “Mereka sudah duluan.
           Ibu mau ketemu kamu dulu.”

             “Kan, nanti Zarah nginap di rumah Pak Ridwan, eh,
           Bapak.”
             “Ibu mau ketemu kamu di sini.”
             Zarah melirik lagi. “Ibu naik apa? Kok, nggak kedengaran
           suara mobil?”

             “Naik  sepeda.  Sepeda  Ibu  yang  dulu  masih  ada  di
           rumah Abah,” jawab Aisyah. Perjalanan bersepedanya tadi
           menggenapkan kilas balik memori yang melandanya sejak
           Zarah melangkahkan kaki ke rumah Abah. Memori dari
           babak kehidupan yang biasanya ingin ia enyahkan jauh-jauh.
           Hari ini Aisyah tergerak untuk kembali mencicipi. Ternyata,



           102
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122