Page 118 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 118

IntelIgensI embun PagI

           tak semengerikan yang ia duga. Ia menduga, kedatangan
           Zarah-lah yang mengubahnya.

              “Kamu kelihatan sehat,” kata Aisyah. Ingin rasanya Aisyah
           melanjutkan bahwa bukan cuma itu yang ia lihat. Ketika tadi
           Zarah muncul di pintu, napasnya sempat tertunda karena
           kesima. Aisyah bisa melihat dirinya dan Firas hadir lengkap
           dalam sosok Zarah. Anak sulungnya telah bertumbuh menjadi

           perempuan dewasa yang kukuh dan cantik. Aisyah yakin Zarah
           tidak  merasa  dan  tidak  akan percaya. Zarah selalu menjadi
           orang terakhir yang menyadari pesonanya sendiri.
              “Ibu sehat?” Zarah bertanya balik.
              Aisyah mengangguk, lalu tertawa kecil.
              “Kenapa, Bu?”
              “Nggak apa-apa.” Selain menanyakan kesehatan, Aisyah tak
           punya perbendaharaan basa-basi lain yang cocok ditanyakan.

           Tampaknya, Zarah pun sama. Mereka tak punya bahan
           percakapan saking jarangnya berkomunikasi. Aisyah akhirnya
           memutuskan untuk langsung ke tujuan pokoknya menemui
           Zarah. “Untuk kamu.” Aisyah mengeluarkan serenceng kunci
           dari tas selempangnya.

              “Kunci  apa itu, Bu?”  Sesaat  kemudian,  Zarah  mulai
           mengenali kunci-kunci kusam itu. “Rumah Ayah?”
              “Kamu nggak mau tinggal di sini, kami ngerti. Tapi, nggak
           ada lagi yang lebih sayang sama rumah itu selain kamu.
           Ibu, Umi, dan Hara, sudah sepakat. Rumah itu diwariskan
           untukmu.  Terserah kamu mau diapakan, Nak.” Aisyah



                                                                 103
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123