Page 119 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 119

Keping 52


           menyerahkan rencengan kunci itu ke tangan Zarah. “Sekarang

           kamu selalu punya tempat untuk pulang.”
             Aroma besi tua tercium dari telapaknya. Zarah memandangi
           kunci itu tanpa tahu harus bereaksi apa.
             “Kondisinya memang nggak seperti dulu. Tapi, rumah kita,

           kan, nggak besar. Sebentar saja sudah bisa kita rapikan lagi,”
           ujar Aisyah.
             “Zarah belum siap, Bu,” ucap Zarah lirih.
             “Nggak apa-apa. Malam ini toh kamu nginap di Bogor,”
           sahut Aisyah.
             “Bukan itu.” Pulang ke Indonesia, menemui Umi, ibunya,

           adiknya, kuburan kakeknya, sudah begitu besar untuk hatinya
           kelola. Dan, kini, ia diminta untuk menerima rumah tempat
           ia lahir. Rumah tempat ayahnya hilang. Rumah tempat adik
           bungsunya lahir dan mati tanpa diberi nama. Rumah yang ia

           sudah tinggalkan tanpa menoleh lagi.
             Tatapan anaknya yang seperti meminta tolong menyadarkan
           Aisyah. Dalam absennya kata, ia dan Zarah justru lebih
           dimampukan untuk saling memahami.  “Ibu ngerti, Zarah.
           Kapan pun kamu siap. Rumah itu nggak bakal ke mana-mana.”

             “Zarah masih mau cari Ayah, Bu,” ucap Zarah disambung
           dengan  embusan napas  panjang. Akhirnya, kalimat itu
           terlontar bebas. Dadanya melega. Lepas dari pembahasan
           tentang rumah warisan, lepas dari kunjungannya melayat

           Abah, itulah manifesto yang ingin ia nyatakan dari detik



           104
   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124