Page 154 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 154

IntelIgensI embun PagI

              “Kamu yakin di sana aman? Nggak lebih baik kita pergi

           jauh dari Bandung sekalian?”
              “Tempat itu selalu ramai, dan itu yang bikin aman. Kita
           masih belum bisa pergi jauh sebelum Petir diselamatkan.”
              “Bagaimana lagi caranya? Mendekat ke sana saja susahnya

           setengah mati.”
              “My partner might have some idea.”
              Mendengar jawaban Kell, Alfa spontan melirik Bodhi. Ia
           tak bisa membayangkan apa rasanya menjadi Bodhi sebentar
           lagi. “Sampai nanti.” Alfa menyudahi percakapan teleponnya.
              “Pusing?” Basa-basi pertama yang spontan tercetus ketika

           Alfa melihat Bodhi sedang memijat kening.
              “Lumayan,” gumam Bodhi.
              “Sama,” balas Alfa, “nanti lama-lama biasa.” Alfa tersadar
           celetukan  itu akan  mengundang  pertanyaan yang harus

           ditimpali penjelasan. Lidahnya pun kelu, bingung memulai
           dari mana. Kini ia tahu betapa menantangnya menjadi pihak
           yang mengemban informasi. Tak heran, para Infiltran sering
           terlihat tak sabaran.
              Bodhi terlihat ingin bertanya, tapi lagi-lagi pertanyaannya

           tertunda karena mobil itu sudah kembali menepi.
              “Un, makasih bantuannya.” Alfa menepuk bahu Mi’un.
              “Sip. Saya tinggal naik angkot satu kali dari sini,” jawab
           Mi’un sambil membuka pintu.

              “Lho, kamu ke mana, Un?” tanya Bodhi.



                                                                 139
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159