Page 155 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 155

Keping 55


             “Balik ke rumah dulu.  Tidur. Gila aja jam segini harus

           melek. Kalau bukan si Mpret yang suruh, mah, ogah.”
             “Mpret yang suruh?” Bodhi terbengong.
             “Panjang ceritanya,” sahut Alfa.
             “Yuk, duluan.” Mi’un menutup pintu.

             “Kita ke mana?” tanya Bodhi ketika mobil mereka kembali
           ke jalan raya.
             “Ke E-Pop,” jawab Alfa. Ia menjulurkan tangan.  “Alfa
           Sagala. Sori, tadi belum sempat kenalan.”
             Bodhi menyambut jabat tangan itu tanpa merasa perlu
           mengulang namanya. Alfa sudah meneriakkannya beberapa

           kali. Yang ingin ia tahu adalah alasannya.
             “Apa maksudnya tadi?” tanya Bodhi.
             “Mmm... yang mana?” Alfa tergagap.
             “Tree of Life.” Baik sketsa maupun stensil tato  Tree of

           Life buatannya tidak pernah ia unggah atau ia bagi kepada
           siapa pun. Kali terakhir Bodhi melihatnya adalah ketika
           ia merajahkannya.  Tidak pernah Bodhi mereplika desain
           tato. Setiap karya yang ia buat didasari intuisi. Gambarnya
           bukan hanya memperindah, melainkan juga ditujukan untuk

           menggenapi seseorang.
             “Oh, itu.” Alfa berdeham untuk menangkis kegugupan
           yang muncul dalam bentuk gumpalan ludah yang mencekat
           kerongkongan.  “Aku datang jauh-jauh dari Amerika untuk

           cari orang yang sama-sama kenal Ishtar Summer. Aku yakin



           140
   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160