Page 156 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 156

IntelIgensI embun PagI

           kamu salah satunya. Aku tahu kamu pernah bikin tato buat
           dia.”

              “Star? Ketemu dia di mana?”
              Alfa mendeteksi kekhususan dalam bagaimana cara Bodhi
           menyebut “Star”. Begitu saja, tebersitlah sekilas rasa cemburu.
           Alfa spontan menggoyangkan kepala, berusaha menepis
           perasaan yang mengganggu itu. “New York,” jawabnya.

              Bodhi merebahkan punggung ke sandaran jok. Salah satu
           kenangan paling berbekas dalam hidupnya kembali menggigit.
           Segala yang terjadi di Bangkok pada hari itu masih terbayang
           jelas.  Tak terhitung Bodhi mengulang-ulang memori itu
           dalam kepalanya macam video rusak. “Star cerita soal tato itu,
           soal saya, atau bagaimana?” tanyanya.
              “Dia nggak cerita.”  Tempo bicara Alfa melambat.  “Aku
           lihat.”

              Ishtar harus setidaknya setengah telanjang agar tato itu
           terlihat. Bodhi ingin menduga bahwa Alfa adalah tukang
           pijat, tapi tampaknya tidak demikian. “Oh,” ucapnya pendek.
              Sesaat  keduanya  tidak bersuara. Jeda yang  terjadi begitu
           menggerahkan.

              “Kalau dia nggak bilang, kamu bisa tahu itu tato buatan
           saya dari mana?” Bodhi tak tahan bertanya duluan.
              Hanya sesaat Alfa merisaukan Bodhi bakal menilainya
           sebagai seorang maniak nyaris gila. Tak mungkin lagi menjaga
           citranya pada pertemuan pertama ini. Tidak dengan telanjur
           mengungkap soal tato Star. Maka, meluncurlah cerita  soal



                                                                 141
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161