Page 158 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 158

IntelIgensI embun PagI

           tungkainya langsing dan lentik seperti penari, garis mukanya

           feminin dengan bibir yang terlampau merah untuk seorang
           laki-laki. Cukup dengan tambahan rambut palsu dan sumpalan
           yang strategis, amat mudah menyulap Bodhi menjadi seorang
           perempuan ayu. Jangan-jangan dia… Alfa menggeleng pelan.

           Radarnya agak payah untuk mendeteksi preferensi seksual
           seseorang. Lebih baik berhadapan dengan seribu teka-teki
           silang. “Jadi, kalian cuma teman biasa?” tanyanya lagi.
              “Kamu berangkat jauh-jauh dari Amerika cuma buat
           mengecek sedekat apa saya sama Star? Serius?” tanya Bodhi.
           Ia  mulai  meraba  arah  semua  ini.  Penjemputannya  ternyata

           tak lain adalah urusan kecemburuan seorang laki-laki posesif
           yang ditinggal minggat kekasihnya. Ishtar memang tidak bisa
           ditebak, tapi Bodhi tak heran kalau Ishtar memutuskan kabur
           dari Alfa.

              “Tadinya begitu,” jawab Alfa dengan suara rendah. Pada
           titik ini bisa dipastikan citranya rusak sudah.  “Ternyata,
           nggak cuma itu,” lanjutnya. Dari tas selempangnya, Alfa
           mengeluarkan sebuah benda kecil dan menyerahkannya
           kepada Bodhi. “Punya kamu. Akar.”

              Bodhi menerima batu yang terasa dingin di telapak. Simbol
           yang tertoreh di permukaannya menghentikan napas Bodhi
           beberapa saat. Menghentikan segalanya. Bagi Bodhi, Bumi
           berhenti berputar meski roda mobil yang ditumpanginya terus

           bergulir.



                                                                 143
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163