Page 162 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 162
IntelIgensI embun PagI
tinggi dan rimbun. Beberapa ekor ayam kampung berjalan
santai di hadapannya. Gio mengenali banyak tanaman pangan
yang tumbuh bebas tanpa ada yang merecoki, dari mulai pohon
kelapa, pohon buah, singkong, jagung, hingga padi darat. Tak
heran tempat itu mengundang banyak hewan mampir mencari
makan.
“Mas, kayaknya nggak ada orang, deh.” Sopir mobil
sewaannya berkata untuk kali kedua, tak sabar ingin
meninggalkan tempat yang menurutnya lebih cocok untuk
jadi lokasi pengambilan film horor.
“Sebentar, Pak.” Gio mengecek sekeliling rumah. Semua
jendela berterali itu ditutup tirai seragam yang sudah
mengusam. Gio kembali ke pintu utama, mengetuk beberapa
kali. Sesuai ekspektasi, tidak ada respons. Gio mencoba
membuka gagang pintu. Terkunci.
Dering ponselnya yang nyaring membuat Gio tersentak.
Nama Dimas Prayitno muncul di layar.
“Halo, Dimas? Ya. Aku sudah terima pesanmu. Aku sedang
di Bogor.” Gio melirik jam tangannya. Ia memutuskan untuk
memberi kesempatan pada rumah kosong itu setidaknya
satu jam lagi. Entah bagaimana, ia merasa akan menemukan
sesuatu di alamat itu meski satu-satunya prospek yang ia temui
baru sekawanan ayam kampung. “Ya, aku bisa ke Menteng.
Mungkin agak siang. Nanti aku pastikan lagi jamnya.”
Seusai telepon dari Dimas, Gio kembali ke mobil. “Kita
jalan-jalan sebentar, Pak. Kita balik ke sini sejam lagi.”
147

