Page 163 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 163

Keping 56


             Sopir itu tampak berusaha keras memahami maksud Gio.

           Mereka berada di pinggiran Kota Bogor, berbatasan dengan
           sebuah kampung bernama Batu Luhur. Tidak tampak tanda-
           tanda lokasi wisata maupun keramaian yang layak menjadi
           tujuan “jalan-jalan”. “Balik ke kota, maksudnya, Mas?”

             “Nggak. Di sekitar sini saja.”
             Sopir itu geleng-geleng sambil menyalakan mesin
           mobilnya. “Terserah Mas, deh. Tunjukkan saja jalannya.”
             Gio sama butanya. Namun, berbeda dengan sopir itu, Gio
           mendapati daerah sekitarnya menarik dan memancing rasa
           ingin tahu.







           Dalam waktu singkat yang mereka punya, Alfa menjelaskan

           dengan secepat dan setepat mungkin. Bodhi tak tahu apa
           pekerjaan Alfa sehari-hari, tapi ia mengagumi kemampuannya
           menerangkan dengan baik meski apa yang diterangkan Alfa
           tidak  mudah  ia  terima.  Jika  bukan  karena  penglihatannya
           yang ikut berubah, seluruh cerita Alfa lebih cocok masuk ke

           rangkaian dongeng Seribu Satu Malam.
             “Kamu kenal banyak Infiltran?” tanya Bodhi.
             “Yang aku tahu, baru dua. Katanya, Peretas sepanjang
           hidupnya  selalu dibayangi  Infiltran maupun  Sarvara. Kita

           cuma nggak sadar. Aku yakin, sudah pernah ada Infiltran



           148
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168