Page 165 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 165

Keping 56


           dengan Alfa memberikannya semangat baru. Harapan segar
           di atas menggunungnya pertanyaan.

             Sambil mengantongi batu kecilnya, Bodhi keluar dari
           mobil. Tegang, Alfa mengikuti. Ia yakin senyum Bodhi tidak
           akan bertahan lama.







           Dengan bersemangat Kewoy bangkit menyambut kedatangan
           tamu-tamu spesialnya. Akan ada rombongan penting datang ke
           E-Pop, harus diservis maksimal, setelah itu jangan diganggu.
           Itulah instruksi Toni kepadanya lewat telepon pagi-pagi buta
           tadi.
             “Bang Bodhi, selamat pagi.” Mata Kewoy berbinar begitu
           melihat Alfa.  “Ini Bang Alfa? Saya Kewoy.  Tadi pagi Bos

           Jabrik sudah  telepon,  katanya  kalau  Bang Alfa mau  pakai
           ruang mana pun di sini boleh, mau nginap juga boleh. Makan-
           minum-internet-game,  semua gratis pokoknya, Bang,” kata
           Kewoy dengan logat Sunda kental, yang membuat panggilan
           “Bang” terdengar ganjil diucapkan.

             “Makasih,” Alfa tersenyum, “eh, tamu saya sudah sampai,
           ya?” Ia masih tak sampai hati menyebutkan namanya.
             “Oh, sudah. Bang Bule nunggu di ruang  home theatre.
           Sudah ngopi, sudah makan mi rebus. Mau pesan juga, Bang?”
             “Nggak usah, makasih,” sahut Alfa buru-buru.  “Boleh
           langsung antar ke ruangannya?”



           150
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170