Page 168 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 168

IntelIgensI embun PagI

           remang itu seketika bermandikan cahaya yang menerobos dari

           luar.
              Seorang pemuda berjalan masuk. Siluetnya kecil dan
           ramping, melangkah mantap dengan kepercayaan diri berlipat
           dari ukuran badannya. Baru ketika pintu di belakangnya

           menutup, wajahnya terlihat. Kulitnya berwarna gading dan
           matanya sipit seperti kebanyakan etnis Tionghoa. Kepalanya
           gundul licin.  Terbalut baju  changsan hitam panjang yang
           ujungnya melambai anggun di mata kaki, ia lantas berdiri
           dengan kedua tangan bertemu di belakang pinggang macam
           komandan upacara. “Akar, Gelombang,” sapanya.

              Kontras dengan wibawanya yang macam orang tua, suara
           pemuda itu tinggi dan ringan seperti anak remaja menuju
           puber. Kepada Kell, ia hanya mengangkat dagu.
              Alfa merasakan tubuh Bodhi melunglai dalam pegangannya.

           “He, Bodhi, kamu kenapa?”
              Bodhi, limbung dan termangu, benar-benar pias seperti
           melihat mayat hidup. Bertahun-tahun lalu di Laos, pada sebuah
           petang di Sungai Nam Song, wujud serupa menghampirinya.
           Entah arwah gentayangan atau fatamorgana, yang jelas saat

           itu Bodhi yakin telah melihat penampakan Guru Liong. Kini,
           dalam bentuk darah dan daging, sosok itu kembali hadir. Solid
           dan tegap macam perwira muda.
              “Guru,”  bisik Bodhi. Lututnya lemas. Pegangan Alfa

           menjadi satu-satunya alasan ia belum terkapar di lantai.



                                                                 153
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173