Page 224 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 224

IntelIgensI embun PagI

              “Dua-duanya boleh.” Gio tersenyum. “Dan, air putih yang

           banyak. Sampai besok.”
              Zarah membalas senyum Gio seraya melambaikan tangan
           pelan. “Terima kasih,” ucapnya. Zarah berharap suaranya bisa
           berkumandang lebih lantang, lebih wajar, tapi ada sesuatu yang

           mengisap dari dalam, melirihkan suaranya dan melemaskan
           tungkai-tungkainya.
              Jendela itu menutup. Mobil itu pun melaju pergi. Zarah
           berbalik masuk ke rumah, mengatur napasnya yang mendadak
           menyesak. Pikirannya sibuk mencari penyebab yang masuk
           akal. Namun, lagi-lagi ia terdistraksi oleh citra yang sama.

           Senyuman yang baru saja ia lihat.







           Sati dan Simon berdiri di samping tempat tidur, memandangi
           Elektra yang tertidur pulas bagai bayi.
              “Tubuhnya perlu waktu untuk kalibrasi. Lusa, dia pulang.
           Hidupnya akan kembali seperti biasa,” ucap Simon.
              “Waktu kita masih cukup?”

              “Semuanya tepat waktu.” Simon mengangguk kecil.
           “Selamat. Kamu berhasil.”
              “Kandinya sudah dipastikan hancur?”
              Simon tak langsung menjawab.  Telunjuknya mengetuk-

           ngetuk batu hitam di pucuk tongkatnya. “Baru Antarabhava.”



                                                                 209
   219   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229