Page 220 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 220

IntelIgensI embun PagI

              Aisyah  dan  Zarah  sama-sama  tertegun.  Aisyah  tidak

           menduga Zarah begitu mendapat perhatian dari tempat
           kerjanya, sebuah  “kantor” misterius yang ia tak pernah
           tahu. Sementara  Zarah  tercengang  dengan kelenturan Gio
           menghadapi situasi.

              “Terima kasih,” ucap Aisyah, “silakan, masuk dulu.”
              “Saya sebenarnya harus langsung ke Jakarta.  Tapi, saya
           perlu ikut ke kamar mandi dulu. Boleh, Bu?”
              “Oh, silakan, silakan.” Aisyah membuka pintu lebar-lebar.
           Aisyah pun tergopoh ke dapur memberikan instruksi untuk
           menyiapkan minuman dan stoples-stoples kue.

              Di tangga, Hara berdiri menyaksikan kesibukan mendadak
           di ruang tamu.
              “Hara, kasih salam dulu ke tamu Kak Zarah,” ujar Aisyah
           buru-buru.

              Tamu? Hara meyakinkan diri ia tidak salah dengar. Kata
           “tamu” dan  “Kak Zarah” adalah kombinasi yang asing di
           telinga.
              “Hara, ini Gio. Temani sebentar ya, Kakak perlu ke kamar
           dulu.” Zarah menaiki tangga dengan cepat.

              “Halo, Hara,” sapa Gio ramah.
              Hara hanya bisa tersenyum canggung, menatap Gio tanpa
           kedip. Pemandangan itu makin sulit dipercaya.
              Tak lama, Zarah kembali.  “Kamar mandinya di sebelah

           sini, aku antar,” katanya kepada Gio. Begitu mereka tiba di



                                                                 205
   215   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225