Page 222 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 222

IntelIgensI embun PagI

              “Tenang saja, aku suka gorila. Aku juga punya beberapa
           teman di IUCN.” Gio menunjuk tulisan kecil di ujung lengan

           kausnya.
              “Saking buru-burunya, tadi aku nggak sempat cek ulang.
           Pas dilipat, semua kaus itu kelihatan sama.”
              “Untung platipus belum masuk ke daftar IUCN.”
              Zarah tertawa lepas. “Jangan sampai. Aku belum siap hidup

           di dunia yang nggak punya platipus.”
              Gio menyukai apa yang ia lihat. Ia menduga, itulah alasan
           utama mengapa waktu terasa berjalan begitu cepat, padahal
           sudah setengah hari ia menghabiskan waktu di Bogor. Gio
           memasukkan ranselnya ke taksi, lalu menyusul duduk di jok
           belakang.  “Besok, kita pasang pompa baru di rumahmu,”
           ucapnya dari jendela yang terbuka.
              “Maksudnya?”

              “Urusan mekanik, aku lumayan menguasai. Kamu nggak
           mungkin pindah sebelum instalasi air di rumah itu siap, kan?”
              Zarah tidak meragukan kemampuan mekanik Gio maupun
           kebutuhan mendesak akan air bersih di rumahnya. Ia hanya
           ingin memastikan pendengarannya tidak salah ketika Gio

           mengatakan “besok” dan “kita”. “Jadi, besok kamu datang lagi?
           Ke Bogor?”
              Gio tergeragap. “Eh, kalau kamu nggak keberatan, pastinya.
           Aku cuma mau bantu.”
              “Sama sekali nggak….” Zarah ikut terbata. Jakarta–Bogor
           demi mengganti sebuah pompa tua. Seharusnya tidak ada



                                                                 207
   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226   227