Page 225 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 225

Keping 60


             Sati berdecak sambil meraupkan tangan ke mukanya.

           Napasnya menghela kecewa. “Simon. Yang benar saja.”
             “Tanpa Antarabhava, kemungkinan mereka bisa mengakses
           kandi sudah sangat tipis. Dan tadi, aku bisa merasakan
           konstruksi kandi mereka sudah rapuh.”

             “Kenapa nggak kamu musnahkan sekalian?” tanya Sati,
           frustrasi.
             “Kehancuran yang terjadi pelan-pelan lebih bisa dinikmati
           ketimbang kehancuran yang sekaligus, Sati. Buatku, lebih
           penting menghayati proses ketimbang hasil akhir.”
             “Mereka semua sama. Menyimpan dendam pribadi ke salah

           satu gugus cuma bakalan jadi titik lemahmu.” Sati menggeleng-
           gelengkan kepalanya. “Kamu makin mirip manusia, Simon.”
             “Sudah kubilang, itu yang menjadikan aku yang terbaik.”
             “Sebagai spesies yang dengan bodohnya berulang-ulang

           menghancurkan dirinya sendiri, tidak semua hal tentang
           manusia patut diikuti. Kamu juga harus hati-hati.”
             “Kamu keliru, Sati. Kalau mereka semua kuanggap
           sama, pekerjaan ini nggak ada bedanya dengan menghalau
           ternak. Membosankan. Aku lebih senang menjadikannya

           perburuan. Semua pemburu selalu punya buruan favoritnya
           masing-masing. Ini bukan dendam. Ini kesenangan.” Simon
           menolakkan tongkatnya ke lantai dan melangkah keluar
           kamar. “Sarvara yang baik harus tahu kapan bersenang-senang.

           Keabadian sudah cukup melelahkan.”



           210
   220   221   222   223   224   225   226   227   228   229   230