Page 226 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 226
IntelIgensI embun PagI
Air muka Sati berubah seketika. Ia bergerak cepat,
menghalangi jalan Simon. “Jangan pernah gunakan kata itu
di depanku.”
“Yang mana? Keabadian atau Sarvara?”
Sati terdiam. Tidak banyak yang bisa memancing
kekesalannya. Sialnya, Simon tahu betul tombol-tombol mana
yang bisa ia mainkan.
Melihat Sati yang mangkel, Simon malah tertawa ringan.
“Kamu pikir para penyusup itu senang dijuluki Infiltran?”
“Dan, kamu senang disebut anjing? Kita penjaga. Bukan
‘anjing penjaga’,” kata Sati dengan penekanan.
Simon berdecak. “Ah. Selagi kita di sini dan menggunakan
bahasa, nama apa pun cuma jadi sarana komunikasi. Nggak
usah diambil hati. Have fun sajalah.” Memakai ujung
tongkatnya, dengan halus Simon menepis Sati dari jalurnya.
Kembali melangkah.
“Gugus Asko butuh perhatian khusus. Dan, aku bukan
membicarakan soal sentimen pribadimu,” ucap Sati dengan
lantang.
Langkah Simon terhenti. “Jadi, benar?”
“Semakin banyak petunjuk Peretas Puncak akan muncul
dari gugus ini.”
“Jangan percaya desas-desus. Cecunguk-cecunguk Infiltran
itu lihai mengacak petunjuk.”
“Aku sudah ketemu dua dari enam. Portal sasaran mereka
ada di sini. Di Indonesia. Aku yakin,” lanjut Sati.
211

