Page 230 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 230

IntelIgensI embun PagI

              “Siap,” balas sopir itu ringan. Selama bukan masuk kampung
           seperti tadi, ke mana pun jadi.







           Dari kejauhan, Dimas melambaikan tangan. Di sebuah kafe
           spesialisasi  kopi dengan  barisan karyawan yang  mengantre

           dosis kafein pada jam kritis siang menjelang sore, Dimas
           telah sengaja menunggu di pintu masuk agar bisa melihat
           kedatangan Gio.
              “Hai, sori baru bisa sampai jam segini,” sapa Gio.
              “No problem.  Kami juga  belum lama. Ada Reuben dan
           keponakanku di dalam.” Dimas menggiring Gio masuk.
           Matanya mencuri pandang ke samping. “Eye catching banget
           bajunya.”

              Langkah Gio tertunda. “Keponakan yang di Bandung itu?
           Dia lagi ada di sini?”
              “Tadi malam dia datang ke rumah. Aku sudah cerita ke dia
           soal pencarian kamu di Peru, soal e-mail Diva….”
              “Jadi, dia bersedia bantu saya, eh, kita?” potong Gio.

              Dimas  mendekatkan  mulutnya  ke  kuping  Gio.  “Lebih
           dari itu. Dia bakal mempertemukan kita dengan Supernova,”
           ucapnya dengan volume rendah.
              “Di mana? Kapan?”
              Telunjuk Dimas menunjuk ke atas.  “Supernova ada di
           penthouse. Sebentar lagi turun.”



                                                                 215
   225   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235