Page 231 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 231

Keping 61


             Darah Gio berdesir mendengarnya. Bergegas, ia mengikuti
           langkah Dimas yang menuju sebuah pojok, menjauh dari
           gerai tempat pemesanan yang ramai. Terlihat hanya ada dua

           orang di sana, duduk menghadap sebuah meja bundar yang
           dikelilingi beberapa sofa berlapis kulit imitasi.
             Baik Reuben maupun laki-laki di sebelahnya berdiri ketika
           Gio mendekat.
             “Gio. Ini Toni,” ucap Reuben singkat.
             Keponakan Dimas bernama Toni menyorot Gio dengan
           tatapan berwibawa bagai pejantan superior yang menerima
           tamu asing di teritorialnya. Tatapan itu kontras dengan tubuh
           kurus yang Gio curiga akan melayang jika angin bertiup

           sedikit kencang.
             Mengenakan sweter hitam berpenutup kepala dengan
           ukuran jauh lebih besar daripada badannya, Toni menyorongkan
           tangan tanpa ragu. “Mpret,” sapanya.
             “Em—apa?” Gio menyambut tangan itu sambil
           menelengkan telinga.
             “Kalau Paklik-Bulik panggil aku Toni,” kata Toni sambil
           menoleh sekilas ke arah Reuben dan Dimas. “Terserah situ
           saja mau ikut yang mana.”
             “Bulik?” sela Reuben.  “Eh, orang panggil  ‘Mas’ saja aku
           tegur. Kamu nggak usah kasih ide aneh-aneh, deh.”
             Toni  tak  mengindahkan.  Perhatiannya  terkonsentrasi

           penuh kepada Gio. “Kalau nanti sudah tahu siapa orang di
           balik Supernova, terus apa?” Pertanyaan  Toni menghunjam
           langsung. Tanpa sebaris pun basa-basi pembukaan.


           216
   226   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236