Page 233 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 233

Keping 61


           Miranda, kakaknya Alé. Alé pernah numpang di apartemenku
           di Baltimore, sebelum dia pindah ke SF.”

             “Nah, keluarga Alé itu tetanggaku. Dulu banget waktu
           kecil. Di rumah keluargaku di Kebayoran Baru,” timpal Dimas.
             “Ah, ya, ya. Apa kabar?” Re menyambut banjiran informasi
           itu dengan tawa sopan. Mukanya menunjukkan kebingungan.
             “Oh, sori. Sampai lupa. Aku ini pamannya Toni,” Dimas

           menambahkan.
             “Memang kalian nggak sengaja ketemu di sini—atau?”
           Gerakan tangan Re mengarah ke Dimas dan Toni, sementara
           ekor matanya masih menangkap satu orang asing lagi. Seorang
           pria yang setengah badannya memajang wajah gorila.
             “Mas Re, aku minta maaf banget. Kemarin aku bilang mau
           ketemu sendirian. Sebetulnya aku pengin mempertemukan
           Mas Re dengan mereka,” Toni angkat bicara.

             “Ada urusan apa, ya?”
             “Soal Supernova,” jawab Toni.
             Ekspresi Re berubah drastis. Meski sikapnya masih
           menahan diri, gelegak emosi terbaca jelas di wajahnya.
             Gio  melihat  perubahan  itu.  Dalam  momen  sedemikian

           singkat, segala memori tentang Diva terputar ulang dalam
           benak Gio; arsip artikel Supernova yang ia baca semalaman,
           apa yang ia lihat di alam Ayahuasca. Reaksi Re menjadi
           secercah konfirmasi. “Jadi, benar Supernova itu Diva?” celetuk
           Gio.
             “Itu pertanyaan atau kesimpulan?” Re membalas, dingin.



           218
   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237   238