Page 232 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 232

IntelIgensI embun PagI

              Gio tidak siap menjawab. Ia merasa diintimidasi tiba-tiba.
              “Pulang ke Peru?” Toni melanjutkan. “Atau di sini masih
           ada urusan lain? Sudah tahu mau diapakan informasinya?”

              “Belum tahu,” jawab Gio, kering dan ketus.
              Toni menatap rombongannya satu-satu. “Aku merisikokan
           pekerjaan dan integritasku demi pertemuan ini.  So, please,
           jangan ada yang ceroboh. Supernova bukannya sosok yang
           nggak punya musuh. Kalau bukan karena koneksi yang kalian
           ceritakan, aku nggak bakalan membongkar identitasnya.”
           Toni melirik Gio. “Jangan sampai pertemuan ini cuma ajang
           pemuasan rasa penasaran.”
              Rahang  Gio  mengencang.  “Sebulan  lebih  aku  bawa

           rombongan SAR masuk-keluar hutan dan sungai untuk
           cari satu orang. Kalau modalnya cuma penasaran, nggak
           akan ada yang bisa bertahan.” Ia menghadap Reuben dan
           Dimas. “Silakan teruskan. Buatku, identitas Supernova nggak
           sepenting itu. Belum tentu juga relevan dengan yang kucari.”
           Ia balik melirik Toni. “Aku nggak butuh beban ekstra.”
              “Terlambat,” gumam Toni.
              Terdengar langkah hak sepatu pantofel beradu dengan
           lantai kayu. Seseorang menghampiri mereka.
              “Toni….” Suara itu menggantung di udara.
              “Ferre!  Masih ingat, nggak?” sapa  Dimas hangat.  “Aku
           Dimas. Kita pernah ketemu di acara PERMIAS. Sudah lama,

           sih. Waktu itu kamu diajak Rafael, kan? Si Alé?”
              “Reuben. Hai,” sambar Reuben.  “Aku bareng Dimas
           waktu itu. Kita sempat ngobrol-ngobrol juga. Aku temannya


                                                                 217
   227   228   229   230   231   232   233   234   235   236   237