Page 238 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 238

IntelIgensI embun PagI

              Re  tersenyum  kecil.  “Mungkin  karena  sebagian  besar

           artikel Supernova memang masih ditulis Diva. Aku hanya
           menyumbang sepertiga. Yang dia alihkan sepenuhnya hanya
           tanya jawab. Itu yang sudah nggak bisa dia lakukan karena
           perjalanannya.”

              “Tetap saja, pekerjaanmu menurutku luar biasa. Nggak
           semua orang bisa mengimbangi Supernova. Kamu memang
           suka nulis?”
              Pertanyaan Dimas mendorong Re ke lorong waktu.
           Kenangannya tentang Rana, puisi-puisinya, krisis besar yang
           mengubah hidupnya, pertemuan pertamanya dengan Diva,

           inisiasi Supernova. “Kalau kepepet,” jawab Re ringkas.
              “Mungkin Gio tahu?” celetuk Toni.
              Gio menggeleng. Satu hal yang ia sadari sejak pertemuan
           itu dimulai, dirinya adalah bagian dari masa lalu Diva. Tidak

           ada rencana ataupun visi masa depan Diva yang melibatkan
           dirinya. Ia hanya menjadi pihak yang kelimpungan ingin
           mempertahankan  Diva, termasuk mengubek-ubek Amazon
           selama sebulan lebih demi kepastian yang ia cari. Kepastian
           akan jasadnya, kepastian akan hatinya.

              “Aku masih menyimpan histori percakapan-percakapan
           kami. Mungkin ada petunjuk di situ yang mungkin aku nggak
           sadari sebelumnya,” kata Re, “aku akan cek ulang semua.”
              “Kelihatannya, yang punya bahan untuk diperiksa hanya

           Gio dan Re, kami bertiga tidak,” sahut Reuben. “Kalau ada



                                                                 223
   233   234   235   236   237   238   239   240   241   242   243