Page 240 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 240

IntelIgensI embun PagI

           Sepeninggal yang lainnya, Re bisa merasakan kecanggungan
           yang tercipta di ruangan itu. Intuisinya mengarahkan ke

           sebuah  dugaan.  Gio  dan  Diva.  Re  berdeham,  mengambil
           ancang-ancang.  “Sori. Aku nggak bermaksud usil atau apa
           pun. Aku cuma…,” kalimatnya sejenak terjeda oleh ragu,
           “aku sudah lama cari orang yang kenal dekat dengan Diva.
           Aku tahu dia punya banyak kenalan. Beberapa orang yang dia

           kenal, aku kenal juga. Tapi, nggak ada yang benar-benar—you
           know? Kamu dan Diva, kalian….?”
              “Kami berteman. Lumayan dekat. Lumayan lama. Hampir
           lima tahun,” jawab Gio kaku. Mereka berdua ternyata mencari
           hal yang persis sama.
              “Lima tahun? Wow.”
              Gio tersenyum pahit. “Nggak banyak yang aku tahu selama
           lima tahun kenal dia. Membongkar kotak hitam jauh lebih

           mudah daripada membongkar apa pun dari Diva. Ngobrol
           dengan dia gampang. Selama bukan ngomongin tentang dia
           dan hidupnya.”
              “Persis.”
              “Kamu dan Diva, kalian…?”

              “Kami tetangga. Dulu. Sebelum dia pindah.”
              “Tetangga? Sudah kenal dia lebih lama lagi, dong?”
              “Bertahun-tahun kami tinggal berseberangan, aku cuma
           kenal mobilnya. Kami baru kenalan sebulan sebelum dia
           pindah. Sisanya ngobrol lewat internet. Kami masih sempat
           chat sebelum dia memulai tur ke Tambopata.”



                                                                 225
   235   236   237   238   239   240   241   242   243   244   245