Page 258 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 258

IntelIgensI embun PagI

              Alfa mengecek ponselnya untuk kali kesekian.  “Kalau
           rumah ini punya papan nomor, harusnya benar. Di sini bahkan

           dibilang rumah terakhir di ujung jalan. Nggak ada lagi rumah
           lain.”
              “Tunggu saja. Sebentar lagi pasti muncul,” kata Kell yang
           memilih bertahan di jok mobil.
              “Kalau betul ini tempatnya, aku vote untuk nginap di hotel,”

           ujar Alfa.
              Dari balik bukit di samping mereka, muncul seorang laki-
           laki  kurus  dengan  sepeda  kumbang  menerabas  rumput  dan
           ilalang. Sepedanya berguncang hebat karena kontur bukit
           yang melandai dan tak rata.
              Sopir mobil sewaan Alfa langsung bersiaga melihat
           kendaraan beroda dua meluncur cepat ke arah mobilnya tanpa
           ada tanda-tanda akan mengerem. “Pak, hati-hati, Pak!” serunya

           panik ketika jarak dua kendaraan itu bertambah dekat.
              Bunyi rem menyayat nyaring bercampur dengan gerusan
           ban di kerikil. Sepeda itu berhenti tepat pada waktunya.
              “Kirain blong, Pak. Astaga. Bikin kaget saja.” Sopir itu
           berkata lega sambil memegang dadanya.

              Pengemudi sepeda itu nyengir lebar. “Memang sering blong,
           Pak. Maklum sepeda tua,” sahutnya dengan logat Jawa kental.
           “Permisi ya, Pak. Mau jemput tamu-tamu saya.” Jempolnya
           menunjuk ke arah tiga laki-laki yang posisinya terpecah dua.
           Kell di mobil, Alfa dan Bodhi berdiri di dekat bangunan.
              “Kas!” sapa Kell hangat.



                                                                 243
   253   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263