Page 263 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 263

Keping 63


             “Lampunya  belum  nyala,  Pak?”  tanya  Alfa  sambil
           menebarkan pandangan.  Tidak tampak sebatang pun tiang

           listrik di sekitar rumah. Teras itu juga kelihatan bersih dari
           penampakan bohlam.
             “Di sini teknologinya beda,  Tole,” jawab Kas sembari
           melenggang  santai  menaiki undakan menuju  teras.  “Mari,
           masuk.”

             Pintu gebyok itu membuka, dan ruangan menerang secara
           perlahan hingga akhirnya rata tersapu pendar sinar putih
           lembut yang tidak menyilaukan. Alfa mendeteksi anomali
           yang terjadi. Ia sudah membayangkan Kas menyalakan
           beberapa  lampu  templok yang menguarkan aroma minyak
           tanah. Yang terjadi di luar bayangannya. Karakter dan kualitas
           cahaya di ruangan itu, yang seolah dinyalakan tombol dimmer
           dari pengendali jarak jauh, terlalu modern untuk rumah joglo

           tua di tengah hutan bambu.
             Sementara itu, Bodhi terkesima oleh hal yang berbeda.
           Rumah yang kelihatan mungil dari luar ternyata jauh lebih
           luas daripada ekspektasinya. Bentuk dalamnya bukan persegi

           empat seperti yang tampak dari depan, melainkan  heksagonal.
           Terdapat pintu-pintu gebyok sebesar pintu utama di setiap
           sisinya. Kamar-kamar itu ternyata dibangun menembus perut
           bukit.
             Berikutnya, mata Bodhi terpaku pada bongkahan-

           bongkahan batu setinggi kursi yang disusun melingkar di
           tengah ruangan. Enam batu itu seolah dipindahkan langsung


           248
   258   259   260   261   262   263   264   265   266   267   268