Page 259 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 259

Keping 63


             Alfa berusaha mencerna sepotong kata yang ia dengar
           barusan. Di kupingnya, Kell seperti mengucap “kaas” dalam

           bahasa Belanda yang artinya keju. Orang yang muncul itu jauh
           dari kesan “keju”. Kulitnya legam, rambutnya hitam berkilap
           oleh minyak rambut yang menjaga setiap helai bertahan pada
           tempatnya meski angin di bukit itu bertiup kencang. Ia seperti
           baru keluar dari mesin waktu. Dari mulai kemeja hingga

           sepatu, semuanya menunjukkan kejayaan mode tahun ‘70-an.
             “Selamat datang. Welcome.” Pria itu balik menyapa dengan
           kedua lengan terentang seolah hendak merengkuh mereka
           semua.
             “Long time no see. Apa kabar?” Kell merangkulnya.
             “Lagakmu itu. Sok ‘long time-long time’ kayak ngaruh saja.”
           Pria itu tertawa lebar, menunjukkan dua gigi taring emas.
             “I haven’t been in this region for quite a while, you know.”

             “Situ sukanya pelesir ke mana-mana, sih. Kalau aku, kan,
           jaga gawang di sini.”
             Alfa dan Bodhi berpandangan. Sama-sama takjub melihat
           pemandangan bapak-bapak Jawa medok dengan pria bule
           bercakap-cakap dalam bahasa masing-masing.

             “Halo, Mas Akar, Mas Gelombang. Namaku Kastunut.
           Panggil saja Kas. Aku juru kunci di sini.” Pria itu menjulurkan
           tangannya  yang  digantungi  arloji  emas  dan  gelang  akar
           bahar. Kedua benda itu tampak terlalu besar dan berat untuk
           pergelangan tangannya yang kurus. Jarinya dipenuhi cincin-
           cincin batu akik sebesar biji salak.



           244
   254   255   256   257   258   259   260   261   262   263   264