Page 292 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 292

IntelIgensI embun PagI

           membuka. Demikianlah caranya berkenalan dengan bunga,
           begitu Firas mengajarkannya sejak ia kecil. Mata Zarah

           memejam. Ingatannya berlari ke saat pertama Gio hadir di
           halamannya, ke semilir angin yang meniupkan wangi mawar.
           Wangi yang serupa terendus penciumannya lagi.  “Terima
           kasih, ya. Salam untuk mamamu nanti.”
              Ada sedikit jeda sebelum Gio bereaksi.  “Nanti
           kusampaikan,” balas Gio. Suaranya bergetar. Ia yakin Zarah

           tidak  menyadari, seperti juga dirinya tidak mengantisipasi,
           betapa kuatnya momen tadi. Waktu sempat mengkristal ketika
           mata Zarah memejam khusyuk dan kemudian membuka.
           Menatapnya.
              “Kamu harus lihat oleh-oleh dari ibuku,” kata Zarah
           seraya tersenyum lebar. Di dalam keranjang besar yang dijejali
           rantang, Aisyah menyiapkan makanan cukup untuk setengah

           lusin tamu.
              Gio pun mengikuti langkah Zarah dengan degup jantung
           yang mengencang. Antisipasi. Lepas dari hari ini, ia tidak
           punya alibi lagi untuk kembali. Selain kata hati.







           Beralaskan selembar lampit, Zarah dan Gio menikmati
           makan malam mereka dari rantang, piring melamin, dan
           cangkir enamel. Zarah berhasil menemukan sebuah botol kaca
           untuk menyimpan buket mawarnya. Jika saja tidak ada bunga



                                                                 277
   287   288   289   290   291   292   293   294   295   296   297