Page 293 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 293
Keping 65
di tengah tikar itu, mereka lebih seperti dua orang piknik
ketimbang kencan makan malam.
“Inggris, Spanyol, Portugis, dan bahasa Indonesia. Wow.
Aku selalu kagum sama orang-orang multilingual.” Zarah
mengomentari kemampuan bahasa Gio yang tengah mereka
bahas.
“Sedikit Quechua, kalau aku sedang bersama keluarganya
Paulo. Sedikit Mandarin, kalau aku sedang bersama keluarga
besar mamaku. Cuma sampai tahap mengerti sepotong-
sepotong. Nggak sampai bicara aktif.”
“Kalau di level itu, aku juga ngerti Sunda dan sedikit Arab.
Dan, berkat serumah dengan Zach dan Paul, aku bisa mengerti
Inggris aksen Lancashire dan Yorkshire.” Zarah nyengir.
Gio tertawa kecil. “Yep. Usahanya sudah hampir seperti
memahami bahasa baru.”
“Buat orang yang sebegitu lama tinggal di luar negeri,
bahasa Indonesia kamu bersih nggak ada aksen,” komentar
Zarah. “Kamu lahir di Jakarta?”
“Aku lahir dan tinggal di sini sampai SD kelas empat. Di
rumah, aku dan Mama lebih banyak bicara bahasa Indonesia.
Mamaku Tionghoa-Betawi. Papa asli orang Portugis-Brazil.
Mereka kenalan waktu Mama kerja di konsulat Brazil. Kami
memang lebih lama di Rio de Janeiro. Tapi, mamaku pengin
menghabiskan masa tua di sini. Gantian, ceritanya. Mereka
sudah pindah ke sini sejak aku lulus kuliah. Aku yang bolak-
balik.”
278

