Page 294 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 294

IntelIgensI embun PagI

              “Papamu betah di Jakarta?”
              “Papa suka tantangan. Buka bisnis di Jakarta jadi mainan

           baru yang mengasyikkan buat dia. Selama masih di dekat
           ekuator dan masih makan masakan ibuku, Papa bakal baik-
           baik saja.” Gio terkekeh.
              “Kenapa kamu memilih Peru?”
              “Aku dan Paulo sering ketemu di Peru. Gara-gara itu kami

           merintis bisnis ekspedisi. Paulo punya koneksi bagus di Peru.
           Akhirnya, kami menetap di Cusco.” Gio beralih kepada Zarah.
           “Kamu? Lahir dan besar di sini?”
              Zarah menelan ludah. Pertanyaan itu akan menjadi
           gerbang dari kisah panjang yang getir. Hidup Gio terdengar
           bagai dongeng manis dibandingkan hidupnya. Pada saat yang
           sama, kehadiran Gio bagaikan undangan yang sulit ia tolak.
           Zarah tidak tahu kapan kesempatan ini bisa hadir kembali.

           Sesuatu dalam Gio menggerakkannya untuk membuka diri.
           Sekali lagi. Aku ingin kamu tahu siapa aku.
              Disaksikan lima batang mawar yang menancap dalam botol
           kaca, Zarah menceritakan perjalanan hidupnya. Bagian demi
           bagian. Luka demi luka.







           Tanpa hal-hal yang biasa menjaga otaknya sibuk, begitu
           mudah kini bagi Alfa untuk jatuh tertidur. Tubuhnya seperti
           mengejar ketinggalan panjang dan mulai mencicil setiap ada



                                                                 279
   289   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299