Page 367 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 367

Keping 70


           mulai merasakan  degup. Sentral yang  mendenyutkan  tanda
           kehidupan.

             Berangsur, Zarah merasakan lagi beratnya tubuh, hadirnya
           ekstensi dalam bentuk tungkai-tungkai tubuh. Kesadarannya
           menyatu dalam tiap sel. Ia merasakan bagaimana fisiknya
           lambat laun berekspansi hingga ruang yang menampungnya
           terasa mengimpit. Ia pun menggerakkan tubuhnya. Mencoba

           menggeliat keluar. Terpuntir. Satu kali. Dua kali. Pada dorongan
           yang ketiga, dalam kecepatan tinggi Zarah meluncur keluar. Ia
           merasakan tekanan luar biasa di kepala dan dadanya. Mengais-
           ngais udara demi bertahan hidup. Ia berteriak kencang. Ia tak
           menduga, keluasan yang ia cari ternyata menyakitkan.
             Sebuah benda halus dan hangat membungkusnya. Samar,
           ia menangkap satu sosok mendekati. Suara yang ia kenal, suara
           Aisyah,  berkata,  “Cantiknya.”  Satu suara menyahut, suara

           Firas, berkata, “Zarah.”
             Baru  saja  Zarah  hendak  menggapaikan tangan,  meraih
           dua sosok buram yang cuma menyerupai kabut hitam-putih,
           kesadarannya  pecah  meninggalkan  tubuh.  Zarah  kembali
           mengapung di ruang hampa. Bumi yang terbungkus jaring

           cahaya kembali berada di hadapannya. Jaring cahaya itu lambat
           laun meredup.
             Seperti manusia, Bumi memiliki siklus yang berhubungan
           dengan inti magnetnya. Ketika terjadi pergantian Kutub Utara
           dan Kutub Selatan, magnet Bumi melemah hingga titik terendah.
           Jaring penjagaan kami ikut merapuh. Pihak bernama Infiltran



           352
   362   363   364   365   366   367   368   369   370   371   372