Page 370 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 370

IntelIgensI embun PagI

           hari sudah terlihat pucuknya. “Kita harus jalan kaki sampai

           ketemu jalan raya, baru cari taksi. Masalahnya, kita mau ke
           mana?”
              “Ke luar kota.”
              “Balik ke E-Pop?”

              “Jangan. Terlalu dekat dengan Bu Sati.”
              “Ke Jakarta? Ada ibuku. Lebih ngeri dari Sarvara.”
              “Ibumu nggak  tahu aku kos di mana, kan?” Bodhi
           melanjutkan langkahnya, menerobos malai-malai ilalang.







           Selepas dari hutan tropis yang padat, perjalanannya berujung
           di sebuah lapangan terbuka. Hamparan pasir berbentuk
           lingkaran. Gio mengamati kerlip di bawah kakinya. Pasir itu

           berkilau.
              Gio  mulai  merasa  ia  tidak  sendiri.  Saat  ia  mendongak,
           di tengah lapangan tampak seorang anak kecil berdiri.
           Perempuan cilik berusia sekitar tujuh tahun. Ia mengenakan
           baju terusan selutut warna gading yang ujungnya berkibar

           ditiup angin. Ia berdiri di sana seakan menunggu seseorang.
           Gio pun mendekat untuk melihat lebih jelas.
              Rambut anak itu panjang melewati bahu, garis mukanya
           membentuk lengkung mirip hati, kedua matanya yang besar

           menyorot tanpa keraguan seakan ia telah lama mengenal Gio.



                                                                 355
   365   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375