Page 372 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 372

IntelIgensI embun PagI

              Dari dalam terowongan, tiba-tiba menghambur sesuatu

           dengan kekuatan penuh yang mengempaskan Gio ke tanah.
           Jaring translusens melekat ke seluruh tubuhnya. Semakin ia
           meronta, semakin jaring itu mencekik. Gio mulai tersengal,
           kehabisan napas. Pandangannya menggelap. Pada detik itu,

           Gio terbangun dengan keringat dingin membanjir.
              Sejenak Gio mengatur napas sambil mengumpulkan
           kesadarannya. Mimpi barusan terasa begitu nyata. Ia mengingat
           jelas rasanya cekikan jaring itu, wajah anak perempuan itu,
           dan... kunci. Menghubungi Zarah adalah hal berikut yang
           muncul dalam benaknya.

              Dengan ponsel dijepit di antara telinga dan bahu, Gio
           melepas kausnya yang basah oleh peluh sambil menelepon
           nomor Zarah. Tidak ada nada sambung, hanya pemberitahuan
           bahwa nomor yang ia tuju tidak aktif. Gio tahu ia tidak perlu

           menunggu sampai sore tiba untuk kembali ke Bogor. Ia harus
           berangkat secepatnya.
              Lima menit kemudian, Gio sudah keluar dari kamar
           mandi. Rambutnya masih basah dan belum tersisir. Ia masuk
           ke kamarnya sebentar dan keluar lagi dengan berpakaian

           lengkap. Jia melongo melihat ransel tinggi tersampir di bahu
           anaknya seperti orang hendak berkemah seminggu.
              “Kamu mau ke mana?”
              “Bogor.”

              “Naik gunung?”



                                                                 357
   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376   377