Page 493 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 493

Keping 80


             Gio menggerakkan tubuhnya perlahan. Nyeri terasa dari
           segala sendi. Zarah masih memejamkan matanya, tidak

           bergerak.
             “Zarah…,” bisiknya. “Zarah,” panggilnya lebih keras dengan
           segala sisa tenaga yang ada. Tidak ada reaksi. Terdengar bunyi
           kersuk tanaman dan pasir yang bergesek. Gio berusaha melihat
           dalam keremangan dengan pandangannya yang belum fokus

           betul. Ia tahu ia harus bersiaga, tapi badannya terlalu lemah
           untuk melakukan gerakan besar.
             Di tempatnya tergeletak, Bodhi mengerjap-ngerjapkan
           mata. Mata fisiknya tidak menangkap apa-apa selain siluet
           hutan  yang  kabur  dan  berbayang.  Namun,  mata  Peretas-
           nya menangkap jelas empat jalur merah, termasuk dirinya,
           yang berpencar dalam jarak dekat.  Telinganya menangkap
           bebunyian tak jauh dari situ.

             “Alfa…,” panggil Bodhi.  Tampak sosok di dekatnya
           menggeliat bangkit, merangkak. Bergerak menjauh. Ia
           seperti tidak mendengar panggilan Bodhi.  “Alfa!” seru
           Bodhi, yang terdengar lebih seperti racauan. Debu menyekat
           kerongkongannya. Mata Bodhi mengerjap lagi.  Ternyata

           bukan sesama simpul merah. Seseorang dengan simpul warna
           perak bergerak tertatih menuruni lereng.
             Bodhi  masih  ingin  memanggil nama Alfa.  Namun, satu
           gerakan kecil pun amat menyita tenaga. Bodhi menjatuhkan
           kelopaknya. Hanya mata Peretas-nya yang masih berfungsi. Ia
           melihat tiga simpul emas datang mendekat.



           478
   488   489   490   491   492   493   494   495   496   497   498